Penggunaan varietas unggul merupakan salah satu komponen teknologi penting dalam upaya peningkatan produksi dan produkivitas kedelai. Varietas kedelai yang unggul untuk suatu daerah belum tentu menunjukkan keunggulan yang sama di daerah lain, karena di Indonesia sangat beragam agroekologinya seperti perbedaan ikIim, topografi, dan cara tanam. Pengkajian ini bertujuan untuk membandingkan keragaan agronomis varietas unggul baru kedelai dan diharapkan diperoleh 2-3 varietas berpotensi hasil tinggi (> 2 t/ha) sehingga dapat dikembangkan pada agroekosistem lahan kering di Maluku. Pengkajian dilaksanakan di dua lokasi agroekosistem lahan kering, yaitu Desa Waeperang (kabupaten Buru) dan Desa Jakarta Baru (kabupaten Seram Bagian Barat) sejak Juni sampai September 2010. Pengkajian menggunakan Rancangan Acak Kelompok, tiga ulangan dan 10 perlakuan. Perlakuan terdiri atas delapan varietas unggul baru (Kaba; Grobogan; Tanggamus; Agromulyo; Ijen; Detam-l; Seulawah; Sinabung) dan dua varietas pembanding (Wilis dan Lokal Namto). Ukuran petak perlakuan 4 m x 4,5 m. Benih ditanam seeara tugal 1 biji/lubang dengan jarak tanam 40 cm x 15 cm. Pengamatan keragaan agronomis meliputi komponen pertumbuhan (persentase tanaman tumbuh, umur 50 persen .berbunga, tinggi tanaman saat panen), dan komponen hasil Gurunlah cabang produktif, jumlah buku subur, jumlah polong berisi per tanaman, berat 100 biji kering) serta hasil biji kering (hobot biji kering per tanaman, bobot biji kering per petak panen, dan hasil biji kering per hektar dan serangan hama Hasil pengkajian menunjukkan bahwa terdapat tiga varietas unggul kedelai (dua varietas unggul baru dan satu varietas pembanding), yaitu varietas Ijen, Detam-l, dan Wilis teleran kekeringan dan memberikan hasil biji kering rata-rata pada dua Iokasi (Desa Waeperang dan Desa Jakarta Baru) lebih dari 2,0 t/ha, yaitu berturut-turut 2,44 t; 2,35 t; dan 2,16 t/ha), atau teIjadi peningkatan produktivitas sebesar berturut-turut 103 persen; 96 persen; dan 80 persen dibandingkan dengan produktivitas eksisting (1,20 t/ha), sehingga dapat dikembangkan pada agroekosistem laban kering di Maluku. (Oleh : Alfons, J.B; Loou, A.  Dalam Prosiding Semnas Pengkajian dan Diseminasi Inovasi Pertanian mendukung program strstegi Kementerian Pertanian, Buku 4, hal.  1669-1675)