Tanaman kedelai belum berkembang di Maluku dan masih berstatus sebagai komoditas pangan baru, namun potensi pengembangan dan permintaan pasarnya cukup baik. Pengkajian PTT kedelai dilakukan di lahan petani, melibatkan petani secara partisipatif di Kecamatan Seram Utara, Kabupaten Maluku Tengah. Komponen PTT yang diuji meliputi varietas unggul Sinabung (Iahan sawah) dan Tanggamus (Iahan kering), olah tanah sempurna(OTS) dan olah tanah tidak sempurna (OTIS) di lahan sawah, perlakuan benih dengan rhizoplus (20 g/kg benih), jarak tanam 40 cm x 10 cm (Iahan sawah) dan 40 cm x 20 cm (Iahan kering), dua biji per lubang, jumlah benih 40-50 kg/ha, pemupukan pada lahan kering: PTI1 (200 kg/ha Ponska +50kg/ha urea + 1 Uha pupuk organik + 150 9 rhizoplus), PTI2 (100 kg/ha Ponska + 25 kg/ha urea + 2 Uha pupuk organik + 150 9 rhizoplus), dibandingkan dengan cara petani. Pada lahan sawah: PTI1 (200 kg Ponska + 50 kg urea + 1 t pupuk organik + 150 9 rhizoplusl ha), PTI2 (100 kg Ponska + 25 kg urea + 2 t pupuk organik + 150 9 rhizoplus/ha). Dari ketiga paket teknologi PTI (PTI1, PTI2, Petani) yang diterapkan di lahan sawah, PTI2 memberikan hasil lebih tinggi yaitu 2,8 Uha, PTT1 dan cara petani masing-masing 2,4 Uha dan 2 Uha. Pada lahan kering, hasil kedelai pada PTT1 dan PTT2 sama yaitu 1,6 t/ha dan cara petani 0,9 t/ha. Berdasarkan analisis kelayakan usahatani kedelai pada lahan sawah, PTT2 memberi R/C rasio (ebih tinggi (2,1) diikuti oleh PTT1 (2,0), dan cara petani 1,9. Untuk meyakinkan bahwa usahatani kedelai dengan teknologi PTT layak dikembangkan maka analisis ini dilengkapi dengan nilai MBCR (Marginal Benefit Cost Ratio). Nilai MBCR PTT2 dan PTT1 di lahan sawah masing-masing 2,7dan 2,54 sehingga dinilai layak untuk dikembangkan. Komponen teknologi PH kedelai di lahan kering berbeda dengan lahan sawah. Berdasarkan R/C rasio, PTT1, PTT2, dan eara petani layak secara finansial, namun berdasarkan nilai MBCR, PTT1 dan PH2 kedelai di lahan kering kurang layak dikembangkan karena nitai MBCRnya kurang dari 2. Biaya pengolahan tanah yang lebih besar di lahan kering dan biji kedelai yang lebih kecil dibandingkan dengan di lahan sawah menjadi penyebab kurang layaknya usahatani di lahan kering. (oleh :  Pesireron, M; Kaihatu, S.S.  Dalam Iptek Tanaman Pangan Vol.6(1)  hal. 76-86)