Minyak pala merupakan salah satu komoditas ekspor Indonesia selain biji pala dan fuli. Harga minyak biji pala (nutmeg oil) dan minyak fuli (mace oil) relatif stabil dibandingkan dengan minyak atsiri jenis lain. Minyak biji dan fuli pala Indonesia merupakan minyak yang kualitasnya bagus dan jumlah ekspornya mendominasi perminyakan pala dunia. Pala yang mempunyai mutu terbaik dalam dunia perdagangan adalah pala dari jenis Myristica fragrans H yang berasal dari pulau Banda. Minyak pala merupakan minyak atsiri yang dihasilkan dari proses penyulingan (distilasi) biji pala yang tidak memenuhi kualitas ekspor. Selama ini pengolahan minyak pala di Maluku masih terbatas,  pascapanen pala yang umum diusahakan dan perdagangkan adalah biji dan fuli pala kering. Permintaan minyak pala di pasar dunia sangat tinggi, karena penggunaannya sangat luas seperti industri kosmetik, farmasi, sirup, penyedap alami, selain untuk pengobatan. Luas areal tanaman pala di Maluku adalah 11 017 ha. Harga jual biji pala kualitas ekspor di Ambon berkisar antara Rp75.000–Rp 80.000/kg dan fuli Rp 135.000/kg, sedangkan harga minyak pala Indonesia Rp 500.000/kg. Dalam usaha pengembangan minyak pala ketersediaan teknologi pascapanen pala telah tersedia di badan Litbang pertanian. Berdasarkan ketersediaan bahan baku, inovasi teknologi, harga dan permintaan pasar luar negeri, terutama Amerika Serikat dan Uni Eropa, Maluku sangat potensial untuk pengembangan minyak atsiri pala. Tujuan dari penulisan ini memberi gambaran peluang pengembangan minyak atsiri di Maluku dan teknologi prosesnya. (oleh : Suwarda, R. Dalam Prosiding Semnas Inovasi teknologi Pertanian mendukung Ketahanan Pangan dan Agribisnis Perdesaan.  Buku I.  hal.  639-647)