Di Indonesia konsep pertanian terpadu dengan sistem pemeliharaan temak dan tanaman dalam suatu usaha pertanian telah lama dilakukan petani, namun penerapannya masih secara sederhana dan tradisonal, tanpa melihat untung ruginya baik secara finansial maupun pelestarian lingkungan. Provinsi Maluku merupakan Kawasan Timur Indonesia memiliki lahan kering cukup luas sebesar 852.020 Ha atau 95,75 persen. Berdasarkan data AEZ lahan kering berada pada zone agroekologi I1Iax,I1Iay,IVax, IVaxi,IVaY’IVayi’ Peningkatan produktivitas sapi potong dapat dilakukan secara integrasi dengan tanaman jagung dalam suatu sistem usahatani, dimana temak sapi dapat memanfaatkan Iimbahjerami jagung sebagai pakan. Demikian juga kotoran sapi melalui pengomposan dapat menjadi pupuk organik untuk tanaman jagung. Pengkajian ini dilakukan di Kecamatan Waeapo, Kabupaten Buru. Parameter yang dilihat berupa produksi jagung, bobot badan dan pertarnbahan bobot badan temak sapi. Analisis data dilakukan secara deskriptif dengan membandingkan bobot badan (BB) dan pertarnbahanbobot badan (PBB) sapi yang diberi perlakuan jerami jagung fermentasi dengan jerami tanpa fermentasi. Hasil pengkajian menunjukkan bahwa pemberian jerami jagung fermentasi tanpa batas (ad libitum) + rumput lapangan 5 persen dari hobot badan ternak dapat memberikan pertambahan bobot badan sebesar 7,54 kg selama tiga bulan. HasH analisis kandungan gizi jerami jagung fermentaSimenunjukkan kandungan protein 10,75 persen dan serat kasar 23,21  persen Secara finansial usaha integrasi tanarnan jagung dan ternak sapi potong memberikan keuntungan bersih sebesar Rp. 3.116.167.- dengan nilai BCR 1,3.  Oleh  Matitaputty Procula Rodlof; Kotadiny Elizabeth;  Rumahrupute Butje. Prosiding lokakarya nasional jejaring pengembangan sistem integrasi jagung-sapi. 9-10 Agustus 2006 p. 224-231