Kerbau mempunyai peranan yang sangat penting dalam ekonomi peternakan di Indonesia, karena dapat menyediakan daging dan tenaga kerja bagi kebutuhan manusia. Potensi kerbau cukup signifikan dalam mendukung kebutuhan daging nasional. Usaha kerbau sudah sejak lama diusahakan oleh masyarakat di Indonesia, bahkan di Kabupaten MTB, sebagai salah satu mata pencaharian namun dalam skala usaha yang relatif kecil. Usaha kerbau di Kabupaten MTB ditujukan untuk memproduksi daging. Produktivitas kerbau di Kabupaten MTB relatif masih sangat rendah. Namun demikian usaha kerbau di Kabupaten MTB masih tetap dipertahankan dan memiliki prospek yang baik untuk dikembangkan sebagai ternak penghasil daging. Jumlah
populasi ternak ruminansia tahun 2006 di Kabupaten MTB seluruhnya 40.215 ST, dan kerbau sebanyak 21.511 ST. Kerbau mengalami peningkatan sebesar 53,5 persen, dari total populasi ternak ruminansia di tahun 2006. Selama kurun waktu 5 tahun ini populasi kerbau menunjukkan peningkatan signifikan, dengan laju pertumbuhan 9,08 persen per tahun. Tingkat produksi daging kerbau sebesar 35.756 kg dengan jumlah pemotongan sebanyak 178 ekor. Pengembangan suatu wilayah menjadi kawasan peternakan hendaknya diarahkan pada peningkatan efisiensi pemanfaatan sumberdaya lokal, dan pelestarian lingkungan. Makalah ini akan membahas potensi usaha peternakan kerbau guna mendukung kebutuhan protein hewani Kabupaten MTB, sekaligus menjadikan kabupaten ini menjadi salah satu sentra pengembangan kerbau di Provinsi Maluku, agar tidak tergantung pada suplai ternak dari daerah lain. ( Buffaloes have an important role in economy of animal husbandry in Indonesia, since they can provide beef and work opportunity for people. The potency of buffaloes in supporting national beef demand is significant. Buffalo farming in Indonesia has been conducted by farmer since long time ago. In MTB it is done as small scale farmer as source of income for the farmer. Buffalo farming in MTB is mainly to produce beef but its productivity is considered low. Despite this low productivity this farming is still run by the farmer since it is prospectus to be developed as source of beef. In 2006 the total population of buffalo increased to 21,511heads or 53.5 percent from the previous population. During the last five years, buffalo population increase significantly with the rate of 9.08 percent/year. Buffalo meat production is 35,756 kg from 178 heads slaughtered. This paper will discuss about the potency of buffalo farming in supporting beef demand in MTB and to make MTB become one of buffalo centers in Maluku Province, so that MTB will not depend on others in supplaying beef for its people. In doing so, government should pay attention on increasing efficiency of using natural resources and maintaining sustainable condition of the environment) (Oleh Matitaputty Procula Rodlof dan Kotadiny Elizabeth)  Prosiding Seminar dan Lokakarya Nasional Kerbau “Peningkatan Produktivitas kerbau melalui aplikasi teknologi reproduksi dalam rangka meningkatkan kesejahteraan peternak” – Indonesia