Konsumsi daging masyarakat Indonesia tidak terbatas hanya pada daging sapi dan daging ayam. Daging itik saat ini mulai diminati dan menjadi bahan pangan yang memiliki prospek cerah. Sumber daging itik yang ada umumnya berasal dari itik jantan maupun betina afkir sehingga kualitas daging yang dihasilkan rendah. Tujuan penelitian ini adalah melihat pemberian beluntas, vitamin Cdan Eterhadap performa itik jantan lokal. Penelitian ini menggunakan dua galur itik yaitu itik Alabio jantan dan itik Cihateup jantan, masing-masing terdiri atas 3 ulangan dengan 4 perlakuan pakan yaitu ;1. KO (kontrol); 2. Pakan komersial + beluntas 0,5 persen (KB); 3. Pakan komersial + beluntas 0.5 persen + Vitamin C 250 mg/kg (KBC); 4. Pakan komersial + beluntas 0.5 persen + vitamin E 400 IU/kg (KBE). Rancangan yang digunakan adalah RAL. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pakan perlakuan (KB,KBC,KBE) tidak berpengaruh pada konsumsi pakan, konversi pakan, bobot akhir, pertambahan bobot badan, bobot potong, persentase karkas dan persentase bagian-bagian karkas itik Alabio, namun pada itik Cihateup pakan perlakuan (KBE) berpengaruh nyata pada bobot akhir, pertambahan bobot badan dan persentase bagian karkas dada dibandingkan dengan perlakuan K, KB dan KBC. Penggunaan tepung daun beluntas level 0,5 persen menghasilkan konversi pakan lebih baik. Tepung daun beluntas sebanyak 0,5 persen + vitamin E dalam pakan, mampu mempertahankan performa itik dengan baik.  Oleh: Rukmiasi; Hardjosworo PS; Kataren PP; Matitaputty Procula Rodlof (Institut Pertanian Bogor; Balai penelitian Ternak Ciawi; Balai pengkajian Teknologi Pertanian Maluku (Indonesia)). Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia (Indonesia). Tahun 2010, vol. 15(2) p. 101-109