Salah satu upaya untuk meningkatkan produktivitas itik lokal khususnya sebagai penghasil  Daging yakni dengan jalan kawin silang (crossbreeding). Persilangan merupakan suatu program pemuliaan yang dengan cepat dapat dilihat dan dinikmati hasilnya. Persilangan antar dua galur atau bangsa ternak yang berbeda sering digunakan dalam suatu sistem produksi untuk memanfaatkan keunggulan hibrida (heterosis) dari hasil persilangan. Persilangan ini diharapkan dapat menghasilkan itik hibrida (F I) yang mcmiliki performa yang lebih baik dari tetuanya. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi heterosis persilangan  antara itik Cihateup dan Alabio dan menentukan kombinasi persilangan yang terbaik, sekaligus mempelajari perubahan performa akibat persilangan. Rancangan percobaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) terdiri atas 4 perlakuan dengan 6 ulangan, masing-masing ulangan terdiri atas 5 ekor itik. Perlakuan yang digunakan adalah perkawinan dan persilangan itik yaitu Cihateup jantan x Cihateup betina (CC), Alabio jantan x Alabio betina (AA), Alabio jantan x Cihateup betina (AC) dan Cihateup jantan x Alabio betina (CA). Penelitian ini menggunakan anak itik jantan hibrida keturunan pertama (FI). Hasil penelitian menunjukkan nilai persentase heterosis itik persilangan CA lebih unggul dari AC dalam bobot hidup akhir (7,05 persen), pertambahan bobot hidup (7,32 persen), bobot karkas (24 persen) dan persentase karkas (2,55 persen). Pada potongan karkas bagian paha persentase  tertinggi diperoleh itik persilangan AC (10,13 persen), sementara potongan karkas bagian dada itik tetua murni AA lebih unggul (6,13 persen). Itik persilangan CA memiliki sifat-sifat unggul lebih banyak dan bernilai ekonomis dibandingkan dengan itik persilangan AC.  Oleh: Matitaputty Procula Rodlof; Noor RP; Hardjosworo PS; Wijaya CH (Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Maluku; Institut Pertanian Bogor (Indonesia)). Jurnal Ilmu Ternak dan Veteriner. Tahun 2011, vol. 16(2) p. 90-97