Sagu (Metroxylon spp) merupakan salah satu sumber pangan tradisional potensial yang dapat dikembangkan dalam diversifikasi pangan mendukung ketahanan pangan lokal dan nasional. Bahan pangan tradisional ini memiliki nilai gizi tidak kalah dengan sumber pangan lainnya seperti beras, jagung, ubikayu, dan kentang. Potensi lahan sagu di Maluku cukup luas, demikian pula dengan potensi produksinya cukup tinggi (30 t/ha/th), jauh melebihi sumber pangan lainnya (padi, jagung, dan kentang). Tepung sagu dan produk olahannya dapat dikelompokkan sebagai pangan fungsional karena memiliki kandungan karbohidrat (84,7 persen) dan serat pangan (3,69-5,96 persen)  yang cukup tinggi, indeks glikemik (28) rendah, dan mengandung pati resisten, polisakarida bukan pati, dan karbohidrat rantai pendek yang sangat berguna bagi kesehatan. Proses budidaya sagu (pra-panen) sampai pengolahan tepung sagu basah (pasca panen) dilakukan secara alami, sehingga tepung sagu dapat dikategorikan sebagai pangan organik 100 persen. Tepung sagu basah dapat dikeringkan untuk meningkatkan daya simpan dan daya tarik kemasan, serta dapat diolah menjadi berbagai kue basah dan kue kering. Strategi yang ditempuh dalam upaya pengembangan sagu sebagai komponen ketahanan pangan lokal dan nasional perlu dilakukan mulai dari hulu ke hilir, baik aspek teknis maupun manajemen melalui pengembangan agribisnis sagu yang berdaya saing, berkerakyatan, berkelanjutan, dan terdesentralisasi. Dalam rangka memantapkan ketahanan pangan, pemanfaatan potensi sagu sebagai komponen ketahanan pangan hendaknya memperhatikan hal-hal sebagai berikut: (1) diversifikasi produk olahan sagu agar beragam, bergizi, dan berimbang, (2) pertahankan dan perbaiki pola konsumsi pangan berbasis sagu, (3) mutu dan keamanan pangan agar terjamin, (4) pemanfaatan teknologi tepat guna, dan (5) usaha peningkatan nilai .tambah melalui perbaikan dan peningkatan produk olahan berbasis sagu yang berdaya saing tinggi.  Oleh: Alfons Janes Berthy; Rivaie Arivin A (Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Maluku (Indonesia)). Perspektif (Review Penelitian Tanaman Industri). Tahun 2011, v. 10(2) p. 81-91